Friday, December 13, 2019

RAMADHAN TERBAIK UNTUK IBADAH PUASA

Oleh: ubes nur islam

Bulan ramadhan adalah termasuk salah satu bulan yang disebut asyharul hurum, yakni bulan-bulan yang dimuliakan dalam Islam. Dalam sejarah Islam dikatakan, di bulan ini dilarang mengadakan kontak persenjataan atau peperangan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya.

Dalam situasinya keadaan bulan ini selalu bercuaca dengan kondisi musim panas yang amat terik menyengat dan luar biasa panas, namun demikian Islam menjadikan bulan ini sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan ibadah puasa bagi ummat islam secara keseluruhan, sebagai ajang latihan menahan diri dari berbagai aktifitas detruktif yang radikal.

Dengan melaksanakan ibadah puasa secara outomatis para anak-anak bangsa yang berpribadi dan bermentalitas pamarah, emosional membara akan terbakar hangus dan luluh menjadi pribadi yang lemah lembut dan berkarakter konstruktif.

Bangsa-bangsa purba di dunia telah mengenal  dan mempunyai tradisi puasa, seperti bangsa Mesir Purba, Yunani purba, Hindu purba, dan masyarakat China sampai kini mengenal puasa. Begitu juga suku-suku bangsa primitive di Amerika, Afrika, dan Asia mempunyai tradisi puasa. Begitu pula suku-suku di negri kita seperti di Toraja di Sulawesi, dayak di Kalimantan, Badui di Banten dan Kubu di Sumatera mengenal adanya puasa.

Dalam agama-agama besar di dunia, puasa adalah salah satu ibadah yang amat penting. Karena Allah telah pernah memerintahkan kewajiban puasa kepada umat terdahulu dimana kepada dikirimkan  Rasul-rasul Allah. Mereka didiwajibkan puasa dalam tiap zamannya, seperti Nabi Musa, Nabi Daud, dan Nabi Isa.

Dalam Bijbel sendiri banyak menuturkan tentang puasa. Umpamanya dalam Perjanjian Lama kita dapat melihat dalam Kitab Yesaya 58: 3-6 dan Daniel 10:2.begitu juga dalam perjanjian Baru dapat kita lihat dalam Matius 6:16-17, 9:14-17; Lukas 5: 33 dan Markus 2: 18-22. (lihat Dienul Islam,  Drs. Nasruddin Razak, hal:200)

Bangsa Arab pra Islam, juga mengenal puasa dalam riwayat Bukhari dari Aisyah RA, bahwa kaum Quraiy melakukan puasa 10 Muharram pada zaman jahiliyah, kemudian Rasul SAW menyuruh kaum muslimin berpuasa hari itu sampai dating kewajiban puasa di bulan Ramadhan, dengan sabdanya:

“Barangsiapa berpuasa Asyura silahkan, dan barangsiapa yang tidak puasa (Asyura) silahkan pula”.(lihat Tarikh Tasyri Islami, Khudhori Byk, hal: 47)

Bahkan jika diamati lebih jauh, selain bangsa manusia ternyata alam tumbuh tumbuhan dan binatang di sepanjang zaman pun berpuasa. Sebuah penyelidikan menunjukkan bahwa tumbuh tumbuhan, terutama yang berbiji belah (tumbuhan dicotyl) sering melakukan puasa, pada tiap tahunnya ada musim rontok. Daun yang menempel di tumbuhan adalan sebagai berfungsi untuk menahan penguapan, menampung cahaya, menyerap udara, bahkan berfungsi untuk melakukan potosintesa dan pengasimilasi dan pengatur makanan. Sesudah musim rontok terjadi, tumbuhan mengalami musim berdaun muda kembali, kemudian disusul dengan musim berbunga dan berbuah.

Adapun tumbuhan yang musim gugur daunnya tidak teratur, berakibat datang musim buahnya tidak bagus dan kurang baik buahnya.

Bagi kelompok hewan yang sering berpuasa, dapat dilihat di hewan unggas. Misalnya ayam. Ia berpuasa selama mengerami telornya. Biasanya saat ia mengeram, makannya sangat sedikit dan teratur sekali, yakni pagi sekali atau sore sekali. Bagi induk ayam yang berani makan banyak saat mengeram cukum mendinginkan perutnya, dan akibatnya banyak kegagalan dalam menetaskan telornya.

Puasa tidaklah dimaksudkan untuk siksaan pisik atau rohani manusia. Justru dengan puasa diharapkan menaikkan status eksistensi dan nilai jati diri manusia.  Oleh karena itu,  jika puasa ini dalam keadaan tertentu bisa membahayakan manusia, boleh tidak puasa, QS. Al-Baqarah: 183-185 (bersambung ...)

MAKNA BULAN RAMADHAN

Kata ramadhan merupakan bentuk kata dasar (musytaq)  dari kata ramidha – yarmadhu – ramdhon atau ramadhona dan romadhonat atau romadho’an, yang berati terik panas dan sangat panas membara, (1) Lihat Qomus Arab – Indonesia, Prof. Dr. Mahmud Yunus, hal: 147), atau panas terik membara dan membakar, menimbulkan panas terik, terasa amat panas terbakar, menyala-nyala marahnya, atau bulan ramadhan yang merupakan bulan ke-9 dari penanggalan tahun hijriyah (2) lihat Qomus al-Munawwir, AW. Munawwir, hal: 533)

Dalam sejarah Islam dikatakan, di bulan ini dilarang mengadakan kontak persenjataan atau peperangan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Dalam situasinya keadaan bulan ini selalu bercuaca dengan kondisi musim panas yang amat terik menyengat dan luar biasa panas, namun demikian Islam menjadikan bulan ini sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan ibadah puasa bagi ummat islam secara keseluruhan, sebagai ajang latihan menahan diri dari berbagai aktifitas detruktif yang radikal. Seiring dengan waktu yang pas itu, kewajiban puasa dilaksanakan tepat pada waktu bulan Ramadhan ini.

Puasa sendiri berasal dari kata shoum yang secara bahasa (etimologis), berarti mencegah dari sesuatau (3) lihat Kifayatul Akhyar hal: 149) atau menahan dari segala sesuatu, seperti berperang, makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya (4) lihat Fiqih Islam, H. Sulaiman Rasyid, hal :220).  Kata shoum termaktub dalam firman Allah dalam bentuk kata jamak, antara lain : QS. Al-Baqrah:183 dan 187.

Dengan kandungan dari ayat ini, kata shoum memiliki arti sikap pasif dalam wujud mengekang diri. Termasuk dalam pengertian ini, sikap diam merupakan suatu keadaan yang menggambarkan pengekangan diri untuk berbicara atau tidak bicara. Pengertian ini diantaranya terdapat dalam firman Allah QS Maryam: 26.

Secara istilah (terminologis), puasa atau shoum berarti al-imsak, pengekangan diri atau menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat pada waktu malam harinya dan dengan melakukan beberapa syarat yang ditentukan dalam syariat puasa. (5) lihat Fiqih Islam, H. Sulaiman Rasyid, hal :220). Pemahaman lebih lanjut dapat dilihat dalam ayat QS. Al-Baqrah: 187.

Walhasil, bulan ramadhon adalah bulan yang amat dimuliakan Islam dan bulan yang dilarang untuk mengadakan perseteruan dan peperangan antar sesama bangsa penghuni bumi. Di bulan ini ummat Islam melakukan latihan untuk melatih kepribadian yang handal dan digjaya, yakni di bulan ini umat muslim melakukan latihan penggodogan kawah candradimuka untuk menaikkan derajat peribadinya sebagai insani muslim yang mukmin dan muttaqiin, agar mampu melakukan perlawanan dengan pihak musuh dari dalam diri sendiri, berupa perlawanan hawa nafsu yang kian terus menerus menjebak eksisitensinya dan esensi nilai-nilai kemanusiaannya.

Kewajiban puasa dilaksanakan mulai sejak tahun kedua hijrah, yakni tahun kedua sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah al-Munawwarah. Dimana saat itu turun wahyu perintah kewajibah puasa dan merupakan fardhu ‘ain bagi setiap muslim. Rasulullah SAW sendiri sudah mengerjakan ibadah puasa ini sebanyak sembilan kali, dengan rincian delapan kali 29 hari dan satu kali pas 30 hari. 

Pemahaman lebih lanjut dapat dilihat dalam ayat berikut ini.  Firman Allah:  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa, (yaitu) dalam beberapa hari tertentu….” (QS. Al-Baqrah:183-184).(ubes nur islam)

Thursday, November 20, 2014

Mencapai Maqam Mukasyafah




Ulama sufi berkata, "Mukasyafah artinya jalinan secara rahasia antara dua batin." Maksudnya, mukasyafah adalah salah satu dari dua orang yang saling mencintai, yang mengetahui batin urusan dan rahasia yang satunya lagi. Jalinan ini terjadi secara lembut dan penuh kasih sayang. Jika seorang hamba sampai ke kedudukan ma'rifat, maka seakan-akan dia dapat melihat sifat-sifat kesempurnaan Allah dan keagungan-Nya, sehingga ruhnya merasakan kedekatan yang khusus, berbeda dengan kedekatan yang bersifat inderawi, sehingga seakan-akan dia bisa menyaksikan disingkapkannya hijab antara ruh dan hatinya dengan Rabb-nya.


Yang dimaksud kasyf menurut Al Ghazali adalah metode pengetahuan melalui sarana kalbu yang bening, atau pemahaman intuitif langsung. kasyf  (iluminasi) adalah apa yang tadinya tertutup bagi manusia, atau tersingkap  bagi seseorang seakan ia melihat dengan matanya. Dengan demikian  pengetahuan itu diperoleh dari sumbernya secara langsung, bukan melalui 
fikiran atau belajar. 


Mukasyafah adalah tersingkapnya tabir yang menjadi kesenjangan antara sufi 
dengan Allah. Kesenjangan tersebut adalah jarak antara mahluk dengan khaliknya. 


Sementara itu Kasyf menurut Qaysari adalah penyingkapan hijab. Secara  terminologis, kasyf adalah mengetahui makna yang tersembunyi dan realitas  dibalik hijab secara wujud.  Penyingkapan-penyingkapan itu sebenarnya merupakan Tajali Nama yang  mengurusinya. Dan semuanya berada di bawah Nama Al-Alim. 


Adapun yang berkaitan dengan duniawi, seperti dalam praktek memberitakan  kejadian-kejadian duniawi yang akan terjadi, termasuk dalam kasf Al Suri,  kasyf ini disebut kasy Ruhbaniyyah, karena mereka mengetahui hal-hal gaib  melalui riyadah dan mujahidah mereka. 


Tetapi para ahli suluk beranggapan bahwa hal itu sebagai al istidraj, yaitu kemunduran derajat, bahkan mereka tidak menanggapinya, karena tujuan mereka adalah fana' fi l-Lah dan Baqa bil-Lah. 


Menurut Al Qaysari, sumber mukasyafah adalah al qalb al insani dan intelek  amalinya yang bercahaya yang menggunakan indera ruhaniyah. Karena qalbu  manusia memiliki penglihatan, pendengaran dan sebagainya. Sebagaimana  diisyaratkan Allah dalam firmannya : 

"Maka sesungguhnya tidak buta matanya, tetapi yang buta adalah hatinya yang  ada di dalam dada". Dan "Allah telah menutup keatas hati mereka dan  pendengarannya dan penglihatan mereka dengan tirai." 


Dan indra ruhaniyyah ini adalah bathin indera jasmani. Ketika tersingkap  hijab dimensi ruhani dan dimensi kongkrit maka akan menyatu indera  ruhaniyah dan indera jasmaniyahnya. Dan dia akan mempersepsikan dengan  indera ruhanniyahnya. Ruh akan menyaksikan semuanya secara esensial, karena hakikat yang ada akan menyatu dengan ruh dalam martabatnya dengan  keberadaan yang lengkap dan seluruh hakikat terpadu di dalamnya.

Hijab tersebut adalah nafsunya, yang disingkap Allah dengan kekuatan-Nya. Dengan begitu dia akan menyembah-Nya seakan-akan dapat melihat-Nya.



Ada tiga derajat mukasyafah, yaitu:


Mukasyafah yang menunjukkan penerapan yang benar, yang harus berjalan secara terus-menerus. Hal ini terjadi pada sekali waktu tanpa waktu yang lain, tanpa diselingi suatu pemisahan. Hijab yang tipis bisa terbentang pada kedudukannya, hanya saja hijab itu tidak membuatnya memalingkannya dan meniadakan bagiannya. Ini merupakan derajat orang yang menuju suatu tujuan. Jika berlangsung terus, maka menjadi derajat kedua.


Mukasyafah yang benar merupakan ilmu yang disusupkan Allah ke dalam hati hamba dan menampakkan kepadanya perkara-perkara yang tidak diketahui orang lain. Namun Allah juga bisa memalingkan dan menahannya karena kelalaian dan membuat tutupan di dalam hatinya. Tapi tutupan ini amat tipis, yang disebut al-ghain. Yang lebih tebal lagi disebut al-ghaim, dan yang paling tebal adalah ar-ran.


Yang pertama berlaku bagi para nabi, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya ada tutupan dalam hatiku, dan sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah
 lebih dari tujuh puluh kali (dalam sehari)."


Yang kedua berlaku bagi orang-orang Mukmin, dan yang ketiga bagi orang-orang yang menderita, seperti firman Allah, "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (Al-Muthaffifin: 14).


Hijab ada sepuluh macam:


1. Hijab peniadaan dan penafian hakikat asma' serta sifat. Ini merupakan hijab yang paling tebal. Orang yang memiliki hijab ini tidak mempunyai kesiapan untuk mengetahui Allah dan sama sekali tidak sampai kepada Allah, sebagaimana batu yang tidak bisa naik ke atas.

2. Hijab syirik, yaitu membuat hati menyembah kepada selain Allah.



3. Hijab bid'ah yang bersifat perkataan, seperti hijab orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan berbagai macam perkataan yang batil lagi rusak.


4. Hijab bid'ah yang bersifap ilmiah, seperti hijab para ahli thariqah yang melakukan bid'ah dalam perjalanannya kepada Allah.


5. Hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara batinnya, seperti hijab orang-orang yang takabur, ujub, riya', dengki, membanggakan diri dan lain sebagainya.


6. Hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara zhahir. Hijab mereka lebih tipis daripada hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara batin, sekalipun mereka lebih banyak ibadahnya dan lebih zuhud. Dosa besar secara zhahir lebih dekat kepada taubat daripada dosa besar secara batin. Orang yang melakukan dosa besar secara zhahir lebih bisa diselamatkan dan hatinya lebih baik daripada orang yang melakukan dosa besar secara batin.


7. Hijab orang-orang yang melakukan dosa-dosa kecil.


8. Hijab orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah.


9. Hijab orang-orang yang lalai melakukan tujuan penciptaannya dan yang dikehendaki dari dirinya, tidak senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepada Allah.


10. Hijab orang-orang yang berijtihad namun menyimpang dari tujuan. 


Inilah sepuluh macam hijab yang mendinding antara hati dengan Allah, menjadi penghalang di antara keduanya. Hijab-hijab ini muncul dari empat unsur: Jiwa, syetan, dunia dan nafsu. Hijab tidak bisa disingkirkan jika unsur-unsur penyebabnya masih ada. Empat unsur inilah yang merusak perkataan, perbuatan, tujuan dan jalan, tergantung dari banyak dan sedikitnya, memotong jalan perkataan, perbuatan dan tujuan untuk sampai ke hati.


Sementara apa yang dipotong agar tidak sampai ke hati, juga dipotong agar tidak sampai kepada Allah. Antara perkataan dan perbuatan dengan hati terbentang jarak perjalanan. Seorang hamba menempuh jarak perjalanan itu agar sampai ke hatinya, agar dia bisa melihat berbagai macam keajaiban di sana. Dalam perjalanan ini terdapat banyak perampok jalanan seperti yang sudah disebutkan di atas.


Jika dia bisa memerangi para perampok jalanan itu dan amalnya bisa sampai ke hati, maka ia akan menetap di dalam hati, lalu dari hati ini dia akan mendapatkan jendela agar dapat melihat Allah.


Sekalipun perjalanan itu sudah sampai ke hati, namun hamba tidak mendapatkan jendela untuk melihat Allah, bahkan di dalamnya bersemayam nafsu dan pasukannya, sekalipun dia orang yang zuhud dan paling banyak beribadah, maka dia adalah orang yang paling jauh dari Allah.


Bahkan orang-orang yang melakukan dosa besar, hatinya bisa lebih dekat dengan Allah daripada mereka. Lihatlah seorang ahli ibadah dan zuhud,yang di keningnya terdapat bekas sujud, tapi justru mengingkari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam karena amalnya yang kelewat batas, sehingga dia pun mencemooh orang Muslim lainnya dan menumpahkan darah para shahabat.


Di sisi lain lihat seorang peminum berat,(Orang pertama adalah Dzul-Khuwaishirah At-Tamimy Al-Khariji, dan orang kedua adalah Iyadh bin Himar). yang sering mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan dia pun siap dijatuhi hukuman karena kebiasaannya itu. Karena iman, keyakinan dan kecintaannya kepada Allah serta Rasul-Nya, dia rela menerimanya, sampaisampai beliau melarang orang lain yang memakinya.


Dari sini dapat diketahui bahwa orang yang melakukan kedurhakaan lebih baik kesudahannya daripada orang yang melanggar ketaatan.


Perkataan Syech (al-Mursyid), "Mukasyafah yang menunjukkan penerapan yang benar", setiap orang mengaku memiliki kesesuaian yang benar. Tidak ada penerapan yang benar kecuali yang sesuai dengan perintah. Penerapan dalam ilmu ialah pengungkapan yang sesuai dengan apa yang dikabarkan para rasul. Penerapan yang benar dalam kehendak ialah yang sesuai dengan kehendak Allah.


Mukasyafah yang sebenarnya ialah mengetahui kebenaran yang disampaikan Allah kepada para rasul-Nya dan yang diturunkan ke dalam kitab-kitab-Nya, yang dilihat dengan hatinya. Ini pula yang disebut penerapan yang benar. Sedangkan kebalikannya adalah suatu keburukan. Ini merupakan derajat pertama, yaitu derajatnya orang yang menuju ke suatu tujuan. Jika berjalan terus dan teguh hati, maka akan mencapai derajat kedua.


Syaikh berkata, "Sedangkan derajat ketiga adalah mukasyafah mata dan bukan mukasyafah ilmu, yaitu mukasyafah yang tidak membiarkan adanya pertanda yang menimbulkan kelezatan, atau yang menghentikan perjalanan atau yang singgah di satu penghalang. Tujuan dari mukasyafah ini adalah kesaksian."


Derajat ini disebut pengungkapan mata, karena banyaknya cahaya pengungkapan apa yang ada di dalam hati, lalu menggantikan kedudukan ilmu yang tidak mungkin diingkari dan didustakan. Sebagaimana melihat dengan pandangan mata yang tidak bisa dilakukan kecuali adanya kekuatan penglihatan, tidak ada pembatas, tidak gelap dan tidak jauh jaraknya, maka pengungkapan dengan mata hati mengharuskan adanya hati yang sehat dan tidak adanya perintang untuk mengungkap segala rahasianya.


Dalam Kitab Manaqib Nurul Burhan, terdapat 70 wali Allah yang sudah mukasyafah tapi berhasil disesatkan oleh Iblis (seperti pengakuan Iblis kpada Sultan al-awliya Syaikh Abdul Wadir al-jailani). Kedua, mukasyafah adalah bagian dari sebuah proses, bukan tujuan puncak dalam suluk ruhani. Selama mengalami proses mukasyafah, sufi (terutama yg masih di tengah jalan) masih harus menghadapi banyak cobaan dan godaan. Apa yang datang dari mukasyafah boleh jadi adalah, meminjam bahasa Qur'an, makr (tipu daya Allah). ia bisa jadi kasyaf syathani, atau khatir syathani. Betul bahwa hati yg suci bisa mendapatkan mukasyafah, tetapi hati yang suci bukan terminal akhir, dan karenanya mukasyafah juga bukan puncak ilmu.


Dalam makna wirid- wirid besar tarekat mu'tabarah tersirat bahwa bahkan mukasyafah pun masih bisa disusupi iblis, dan karenanya selalu dibaca istiadzah (sebagian menggunakan wirid shalat istadzah setiap pagi). Kasyaf rabbani memang boleh jadi menjadi isyarat kesucian,tetapi tidak selalu ia bersifat paripurna. Ketiga, seorang yang telah mendapatkan mukasyafah boleh jadi belum mencapai kondisi fana, fana-al-fana, dan baqa. Karenanya, mukasyafah boleh jadi merupakan "hal" atau keadaan spiritual, yang tidak permanen (yang berbeda dengan "maqam" yang relatif permanen).  (ubes)



NASEHAT IMAM AL-GHAZALI TENTANG TAKUT (KHOUF)




Dalam kitabnya "Mukasyafah al-Qulub:Al-Muqanib ila Hadrah 'Allam al-Ghuyub fi 'Ilm at-Tashawwuf" Imam al- Ghazali mengutip pernyataan dari al-Faqih Abu Layts tentang tanda takutnya seorang hamba pada Allah swt. Menurut al-Faqih Abu Layts,tanda takut pada Allah swt tampak pada 7 hal: 

1. Pada lisan - Mencegah lidahnya daripada perkataan dusta, memfitnah, menipu dan perkataan yang tidak berguna. Sebaliknya ia menggunakannya pada jalan berzikir kepada Allah, membaca al-Quran dan menghafaz ilmu.

2.   Pada hati - Mengeluarkan dari dalam hatinya rasa permusuhan, kebodohan dan hasad dengki. Perasaan hasad dengki dapat menghapuskan amal kebajikan, sebagaimana hadis jujungan mulia, “Hasad dengki memakan kebaikan seperti api membakar daun kering.”
3. Pada pandangan - Tidak memandang perkara-perkara yang diharamkan Allah, sebaliknya mengarahkan pandangannya kepada sesuatu seraya mengambil pelajaran hidup (`ibrah) sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa yang memenuhi kedua-dua matanya dengan pandangan haram, nescaya pada hari kiamat Allah akan memenuhi kedua-dua matanya dengan api neraka.”

4.  Pada perut - Tidak memasukkan ke dalam perutnya segala makanan dan minuman yang haram, sebagaimana hadis yang bermaksud: “Apabila satu suap makanan yang haram jatuh ke dalam perut anak Adam, setiap malaikat di bumi dan langit melaknatnya selama suapan itu berada di dalam perutnya. Jika ia mati dalam keadaan itu, tempat kembalinya adalah neraka Jahannam.”

5.   Pada kedua-dua tangan - Tidak menggunakannya pada jalan kemungkaran, sebaliknya pada jalan yang diredhai Allah. Hayatilah sabda Rasulullah sallalahu alaihi wasallam, “Allah membangunkan sebuah rumah itu 70 ribu buah rumah yang masing-masing memiliki 70 ribu kamar. Tidak ada orang yang dapat memasukinya kecuali orang yang meninggalkan setiap yang haram kerana Allah.”

6.  Pada kedua-dua kaki - Tidak berjalan untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah, sebaliknya ia berjalan pada ketaatan dan keredhaan Allah serta dalam bergaul dengan para ulama.
7.   Pada ketaatan - Menjadikan ketaatannya semata-mata untuk mencari keredhaan Allah serta takut akan riak dan kemunafikan. Apabila melakukan hal tersebut, termasuklah ia dalam golongan orang yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya dalam surah at-Tur ayat 17 dan surah Az-Zukhruf ayat 35.

Ada satu hikayat dalam kitab "Majma'ul Lathaif", yang mana dalam golongan Bani israil, ada seorang lelaki abid yang menanggung keluarganya yang ramai. Dia ditimpa kecelakaan yang menyulitkannya mencari pendapatan sehingga dia tidak mampu memberikan apa-apa kepada keluarganya. Lalu dia memerintahkan isterinya agar mencari sesuatu untuk menanggung keluarganya.

Kemudian perempuan itu pergi ke sebuah rumah kepunyaan seorang yang kaya dan meminta sedikit makanan untuk keluarganya. Orang kaya itu berkata, "Baiklah, tapi serahkanlah dirimu kepadaku barang sebentar." Perempuan itu terdiam dan segera pulang ke rumahnya.

Apabila sampai saja perempuan itu ke rumahnya tanpa membawa apa-apa, merengek-rengeklah anak-anaknya kerana kelaparan. Melihatkan keadaan itu, hati tidak tertahan lagi lalu dia kembali ke rumah orang kaya tersebut. Orang kaya itu bertanya, "Apakah engkau bersetuju dengan permintaanku?" Perempuan itu mengganguk.

Namun, ketika berada dalam bilik yang sunyi itu, tubuh perempuan tersebut menggeletar seolah-olah seluruh anggota tubuhnya hendak terlepas. Maka orang kaya pun bertanya, "Mengapakah engkau menjadi demikian?" Perempuan itu menjawab, "Sesungguhnya aku takut kepada Allah." Kemudian orang kaya itu berkata, "Engkau lebih takut kepada Allah daripada kefakiranmu. Maka semestinya aku lebih takut daripada engkau."

Segera dia menghentikan keinginannya terhadap perempuan itu. Diberikannya apa saja yang diminta dan perempuan itu pun pulang ke rumahnya dengan membawa nikmat yang melimpah sehingga keluarganya menjadi senang. Kemudian Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa a.s., "Katakanlah kepada Fulan Bin Fulan. Aku telah mengampuni dosanya."

Lalu Nabi Musa alaihissalam datang kepada orang kaya itu seraya berkata, "Barangkali engkau telah berbuat suatu kebaikan antara engkau dengan Allah." Lalu orang kaya itu menceritakan apa yang telah berlaku dan Nabi Musa alaihissalam berkata, "Sesungguhnya Allah subhanahu wa Taala telah mengampuni segala dosa-dosamu."

Nah, Ketahuilah bahawa sifat takut kepada Allah mesti ada pada seseorang hamba kerana ia amat penting dalam kehidupan kita di dunia ini. Bahkan sifat takut inilah yang akan menjadi benteng atau penghalang kita daripada mengerjakan perbuatan maksiat dan kemungkaran. Semoga dengan demikian Allah akan kasih dan melindungi kita daripada azab seksa-Nya.

"Sesungguhnya orang-orang yang takut melanggar hukum Tuhan-Nya semasa mereka tidak dilihat orang dan semasa mereka tidak melihat azab Tuhan, mereka beroleh keampunan dan pahala yang besar. (Al-Mulk: 12) (ubes)

QODHO UNTUK MANUSIA




Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Saya bersyukur kepada Allah kerana mengurniakan kelapangan dan sedikit kemudahan, ingin saya manfaatkan dengan menyalin satu bab yang terkandung dalam kitab MUKASHAFAH AL QULUB (Penenang Jiwa) karangan Hujatul Islam Imam Al-Ghazali, rahimahu Allah.

Secara peribadinya bagi saya kitab ini sangat bagus untuk dijadikan bahan bacaan bagi umat Islam seluruhnya kerana ianya banyak mengandungi panduan dan pedoman untuk kita menuju kearah kecantikan iman dan amal. Cuma sedikit kemuskilan kerana cetakan yang kedua belas kitab ini terlalu banyak perubahan gaya bahasanya. Jelasnya gaya bahasa dari karangan-karangan Imam Al-Ghazali yang lainnya sangatlah berbeza dari yang ini, ianya lebih halus dan indah bahasanya. Walau bagaimana pun ianya masih sebuah sumber ilmu yang bermutu.

Saya memohon ampun dari Allah jika terdapat kekurangan dari salinan saya dan saya memohon maaf dari para pembaca sekeliannya. Dan di sini hanyalah 1 bab dari 111 bab yang terkandung didalam Mukashafah Al Qulub Bab 37 - Qada Untuk Manusia.

Telah berkata Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:

"Tahukah engkau siapa si miskin itu?" Kami berkata, "lalah orang yang tidak punya dirham, dinar atau harta. " Nabi SAW bersabda: "Umatku yang miskin itu orang yang datang di hari Kiamat membawa solat, puasa dan zakat namun dia memaki, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul. Maka kebaikannya diberikan kepada si anu dan si anu. Jika habis kebaikannya sebelum selesai hutangnya, maka kesalahan mereka diberikan kepadanya lalu dia dilemparkan ke Neraka."

Bagaimana nasibmu di hari itu? Kebaikanmu hilang oleh riak dan tipu daya syaitan. Jika kamu ada satu kebaikan dapat menyelamatkanmu tetapi musuhmu telah mengambilnya. Jika kau teliti puasamu di siang hari dan ibadahmu di malam hari, pada hari itu belum cukup pula untuk menebus ghibahmu, bagaimana dengan keburukan yang lain, seperti makan benda yang haram dan syubhat serta meninggalkan ibadah? Bagaimana engkau ingin bersih dari kezaliman di mana bukti bicara di hari itu?

Abi Zar merawikan bahawa Rasulullah SAW melihat dua ekor kambing sedang bertanduk-tandukkan. "Hai Abi Hurairah, tahukah engkau mengapa kambing itu bertanduk-tandukkan?" Tanya Rasulullah. "Tidak," Aku menjawab. "Tetapi Allah tahu dan akan mengadilinya di hari Kiamat. " Kata Rasulullah.
Dalam menafsirkan ayat:

"Tiadalah (haiwan) yang me/ata di bumi dan tiada pula burung yang terbang dengan dua sayapnya, melainkan semuanya itu beberapa umat seumpama kamujuga ... " (Q.S. Al An 'am: 38)

Abi Hurairah berkata, "Semua manusia, binatang melata dan burung, pada hari Kiamat dibawa untuk mendapat pengadilan dari Allah, lalu setengahnya berkata, "Wahai sekiranya aku jadi debu saja." Dan demikianlah ucapan orang kafir. Bagaimanakah keadaan kau jika melihat bukumu tidak ada catatan kebaikan. Lalu kau berkata, di mana kebaikanku dan dikatakan, "Telah diberikan kepada musuh-musuhmu." Jika kau lihat bukumu penuh keburukan di mana kau telah sabar meninggalkannya. Lalu kau berkata, "Ya Tuhan, keburukan ini sama sekali tidak pernah kulakukan." Maka dikatakan, "Itulah keburukan orang yang kau ghibahi, kau maki dan kau zalimi dalam bermuamalat."

Ibnu Mas'ud berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: "Syaitan tidak mengharapkan kau menyembah berhala di bumi Arab tetapi dia rela dengan keburukan darimu yang lebih hina dari itu. "
Hindarkan kezaliman seboleh yang mungkin. Di hari Kiamat seorang hamba datang membawa segudang ketaatan. Dia kira akan menyelamatkannya. Tapi selalu datang orang berkata, "Ya Tuhan si fulan menganiayaku." Allah berkata, "Ambillah kebaikannya." Demikianlah seterusnya hingga habis kebaikannya sama sekali.

Ketika turun ayat:

"Sungguh engkau akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula. Kemudian kamu berbantah-bantahan pada hari Kiamat di sisi Tuhanmu. " (Q.S. Az Zumar: 30)

Az-Zubair berkata, "Betapa dahsyat hari di mana tidak diampuni satu langkah, satu tamparan dan tidak pula satu kata. Yang dianiaya membalas yang menganiaya." Az-Zubair berkata, "Ya Rasulullah, berulang-kalilah kita bertang­gung-jawab ke atas dosa masing-masing?" Rasulullah menjawab, "Benar, berulangkali. Hingga kau berikan setiap hak yang punya hak."

Berkata Anas: Kudengar Rasulullah SAW bersabda: "Allah membawa hamba-hamba dengan telanjang, berdebu dan  belum jelas. " Kutanya, "Apakah belum jelas itu?" Rasulullah bersabda, "Mereka tidak punya apa-apa. Kemudian Tuhan memanggil mereka dengan suara yang terdengar dari jauh mahupun dekat. "Aku Raja. Tidak akan ahli Syurga masuk Syurga, sedang dia menzalimi seorang ahli Neraka, sebelum dibayarnya. Tidak pula ahli Neraka masuk Neraka, sedang ia menzalimi seorang ahli Jannah, sebelum ditebusnya. Sekalipun satu tamparan." Kutanya lagi, "Bagaimana kami datang dengan telan­jang, berdebu dan tidak jelas itu?"

Rasulullah SAW bersabda:

"Yakni dengan kebaikan dan keburukan. Takutlah menganiaya orang dengan mengambil harta, tidak menjaga harga diri, menyedihkan hati dan jahat dalam bergaul dengan mereka. Antara hamba dengan Allah ada ketentuan. Ampunan kepadanya lebih cepat. Orang yang zalim, telah bertaubat, namun mereka susah untuk minta halal pada yang dizalimi, hendaklah memperbanyak kebaikannya untuk hari qisas. Sukalah aku kebaikan antara dia dan Allah dengan penuh ikhlas. supaya boleh mendekatkannya kepada Allah hingga mendapat rahmat-Nya dan menyembunyikan dia pada kekasih-kekasih-Nya yang mukmin dalam menolak kezaliman darinya. "

Dari Anas, suatu hari Rasulullah SAW duduk. Kami lihat baginda tertawa hingga kelihatan gigi tengahnya. Umar bertanya, "Apakah yang membuatkan engkau tertawa, ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Dua lelaki umatku berdebat di hadapan Tuhan. Yang satu berkata, "Ya Tuhan, ambillah untukku kezaliman saudaraku kepadanya!" Tuhan berkata, "Berikan saudaramu kezalimanmu padanya!" Lelaki itu berkata, "Ya Tuhan, aku tidak punya kebaikan lagi." Allah berkata kepada lelaki yang meminta. "Apakah yang hendak kau perbuat, dia tidak punya kebaikan apa-apa?" Lelaki itu menjawab, "Tuhanku, pikulkan keburukanku padanya."

Anas berkata, "Rasulullah menangis, berlinang air matanya. Lalu baginda bersabda, "Itulah hari dahsyat, di mana orang ingin benar dosanya dipikulkan." Rasulullah berkata, "Kemudian Allah berkata kepada lelaki yang meminta,  "Angkatlah kepalamu, lihatlah Syurga." Lelaki itu mengangkatt kepala lalu berkata, "Ya Tuhan kulihat kota dari perak indah dan gedung dari emas bertatahkan lukluk. Untuk nabi mana ini? Atau untuk siddiq mana ini? Atau untuk syahid siapa ini?" Allah berkata, "Untuk orang yang memberikan harganya pada-Ku."  Orang itu bertanya lagi, "Ya Tuhan siapa orang yang memiliki harganya?" Allah berkata, "Kamu memilikinya." Lelaki itu bertanya lagi, "Apa itu harganya?" Allah berkata, "Ampunan kepada saudaramu." Lelaki itu berkata, "Tuhan, aku telah mengampuninya." Allah berkata, "Jabatlah tangannya, bawalah ia masuk ke Syurga." Kemudian Rasulullah SAW bersabda ketika itu, "Takutlah kepada Allah, berdamailah kamu kepada sesamamu. Allah mendamaikan sesama mukmin."

Ini peringatan, bahawa hal itu boleh didapati dengan memiliki akhlak Allah. Yakni suka berdamai dengan sesama saudara. Fikirkan jika dalam bukumu tidak ada kezaliman atau kau diampuni dan mendapatkan nikmat abadi, betapa bahagia kau menerima keputusan. Dikenakan padamu mahkota redha, dijamin dengan kebahagiaan dan kenikmatan yang tidak ada hentinya. Saat itu hatimu melayang bahagia, mukamu putih berseri, bersinar bagai bulan purnama, luhur di antara manusia, tanpa beban dosa,kesejukan redha bersinar dari dahimu, semua orang memandangmu, terpegunkan keelokan dan keindahanmu. Para Malaikat mengelilingimu dan menyerukan, "Ini, si fulan bin fulan, telah redha dan diredhai akan bahagia selamanya."

Bukankah balasan itu lebih agung dari kedudukan di hati manusia yang kau dapatkan di dunia dengan riak dan kepalsuanmu? Jika kau tahu lebih agung, usahakanlah untuk mendapatkannya dengan keikhlasan dan ketulusan niat dalarn bermuamalah bersama Allah. Jika tidak, kau akan celaka. Di mana dalam bukumu, kesalahan yang kau anggap ringan itu adalah besar di hadapan Allah. Dia memurkaimu dan berkata, "Terimalah laknat-Ku hai hamba yang jahat, tidak KU-terima ibadahmu."  

Tentu saja, setelah mendengarnya, mukamu jadi hitam dan malaikat membencimu kerana kemurkaan Allah. Mereka berkata, "Terimalah laknatku dan laknat semua manusia." Kerana kemurkaan Allah, Malaikat zabaniah pun turut murka padamu. Mereka mencengkam ubun-ubunmu lalu mengangkatmu hingga orang-orang melihat betapa hitam mukamu dan nampak jelas kesedihanmu. Kau meratap dan mereka berkata, "Merataplah terus!" Dan para Malaikat berkata, "Ini, si fulan bin fulan, keburukan dan kedukaan telah dibukakan Allah. Dia melaknatinya setimpal keburukanya. Ia akan sengsara."

Mungkin itu kerana dosa yang samar, ia takut tembelangnya terbongkar dan mencari kedudukan di hati orang. Betapa bodoh kau sembunyikan tembelangmu di hadapan sekelompok manusia di dunia, tapi tidak takut terbongkar di hadapan semua manusia bersama kemurkaan Allah dan seksaan-Nya yang pedih di tangan Zabaniah. Inilah keadaanmu. Tapi kau tidak hiraukan juga. (ubes)


Apakah Ilmu Laduni itu? Dan Bagaimana PandanganDalam Islam ?




Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
( QS Al Baqarah : 32 )

Diantara pelajaran yang bisa diambil dari ayat di atas adalah, bahwa semua ilmu yang dimiliki makhluq hidup di bumi dan di langit adalah ajaran dari Allah swt, termasuk ilmu yang dimiliki oleh manusia. Dengan demikian, kita katakan bahwa semua ilmu yang dimiliki oleh manusia adalah Ilmu Laduni, yaitu ilmu yang berasal dari Allah swt . Timbul suatu pertanyaan, apa sebenarnya hakikat ilmu laduni menurut pandangan Islam ? apakah seperti yang sering di pahami orang-orang sufi selama ini atau ada arti lain yang lebih benar.

Pengertian Ilmu Laduni

Menurut Abu Hamzah As-Sanuwi, Ilmu laduni dalam pengertian umum terbagi menjadi dua bagian. Pertama, ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy). Kedua, ilmu yang didapat karena belajar (kasbiy).

Bagian pertama :

Bagian pertama ini, terbagi menjadi dua macam: Pertama, Ilmu Syar’iat, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri’), baik yang langsung dari Allah maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi Musa dari Nabi Khidlir . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Khidhir:

“Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)

Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir alaihissalam berkata kepada Nabi Musa alaihissalam: “Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga.”

Ilmu syari’at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf sampai datang ajal kematiannya.

Kedua, Ilmu Ma’rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih.

Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan “ilmu laduni” di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.

Bagian Kedua :

Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berfikir dan lain sebagainya.

Dari ketiga ilmu ini (syari’at, ma’rifat dan kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu syari’at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak dianggap apabila menyalahi syari’at. Inilah hakikat pengertian ilmu laduni di dalam Islam.

Bagaimana Ilmu Laduni menurut orang-orang sufi ?

Ilmu Laduni menurut Sufi adalah sebagai berikut : 1) “Ilmu laduni” atau kasyf adalah ilmu yang khusus diberikan oleh Allah kepada para wali shufi. Kelompok selain mereka, lebih-lebih ahli hadits, tidak bisa mendapatkannya.

2) “Ilmu laduni” atau ilmu hakikat lebih utama daripada ilmu wahyu (syari’at). Mereka mendasarkan hal itu kepada kisah Nabi Khidlir alaihissalam dengan anggapan bahwa ilmu Nabi Musa alaihissalam adalah ilmu wahyu sedangkan ilmu Nabi Khidhir alaihissalam adalah ilmu kasyf (hakikat). Sampai-sampai Abu Yazid Al-Busthami (261 H.) mengatakan: “Seorang yang alim itu bukanlah orang yang menghapal dari kitab, maka jika ia lupa apa yang ia hapal ia menjadi bodoh, akan tetapi seorang alim adalah orang yang mengambil ilmunya dari Tuhannya di waktu kapan saja ia suka tanpa hapalan dan tanpa belajar. Inilah ilmu Rabbany.”

3) Ilmu syari’at (Al-Qur’an dan As-Sunnah) itu merupakan hijab (penghalang) bagi seorang hamba untuk bisa sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan ilmu laduni saja sudah cukup, tidak perlu lagi kepada ilmu wahyu, sehingga mereka menulis banyak kitab dengan metode kasyf, langsung didikte dan diajari langsung oleh Allah, yang wajib diyakini kebenarannya. Seperti Abd. Karim Al-Jiliy mengarang kitab Al-Insanul Kamil fi Ma’rifatil Awakhir wal Awail. Dan Ibnu Arabi (638 H) menulis kitab Al-Futuhatul Makkiyyah.

Untuk menafsirkan sebuah ayat atau untuk mengatakan derajat suatu hadits tidak perlu melalui metode isnad (riwayat), namun cukup dengan kasyf sehingga terkenal ungkapan di kalangan mereka”Hatiku memberitahu aku dari Tuhanku.” Atau”Aku diberitahu oleh Tuhanku dari diri-Nya sendiri, langsung tanpa perantara apapun.”

Sehingga, akibatnya banyak hadits palsu menurut ahli hadits, dishahihkan oleh ahli kasyf (tasawwuf) atau sebaliknya. Dari sini kita bisa mengetahui mengapa ahli hadits (sunnah) tidak pernah bertemu dengan ahli kasyf (tasawwuf).
Salah satu fenomena Ilmu Laduni yang terjadi dimasyarakat adalah apa yang di alami oleh seorang kyai salah satu pendiri Pondok Pesantren di salah satu kota di Jawa Timur.

Kyai yang mempunyai 150-an santri itu mengaku bahwa dirinya mempunyai Ilmu Laduni. Dengan Ilmu Laduni yang dimiliknya, sang kyai tersebut mengaku mampu mengajarkan seseorang untuk menguasai berbagai bahasa dengan tanpa bantuan alat pun, baik video, kaset bahasa asing, laboratorium bahasa, apalagi native speaker. Tetapi cukup para muridnya menjalani beberapa ritual, seperti mandi dan membaca beberapa do’a dan sebagainya. Seseorang yang ingin belajar dengan sang kyai ini dipungut biaya Rp 1 juta. Atau Rp 350.000, tergantung pada level yang ia masuki .Sang kyai tersebut mengaku mendapatkan ilmu laduni itu dari Nabi Khidir AS melalui ritual tirakat (lelaku, bertapa).

Tirakat tersebut dimulainya sejak usia tujuh tahun. Dan biasanya dilakukan di tepi laut sambil mencari ikan. Pada usia sekitar 12 tahun, sang kyai tersebut mengaku bertemu dengan Nabi Khidir AS di tepi laut. Dalam pertemuan itu, menurutnya bahwa wujud Nabi Khidir AS berupa seorang manusia yang mengenakan pakaian seperti rakyat biasa. Kemudian nabi Khidir mengangkatnya sebagai muridnya.

Bantahan Singkat Terhadap Kesesatan

Kasyf atau ilham tidak hanya milik ahli tasawwuf. Setiap orang mukmin yang shalih berpotensi untuk dimulyakan oleh Allah dengan ilham. Abu Bakar radhiallahu anhu diilhami oleh Allah bahwa anak yang sedang dikandung oleh isterinya (sebelum beliau wafat) adalah wanita. Dan ternyata ilham beliau (menurut sebuah riwayat berdasarkan mimpi) menjadi kenyataan. Ibnu Abdus Salam mengatakan bahwa ilham atau ilmu Ilahi itu termasuk sebagian balasan amal shalih yang diberikan Allah di dunia ini. Jadi tidak ada dalil pengkhususan dengan kelompok tertentu, bahkan dalilnya bersifat umum, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam:”Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui.” (Al-Iraqy berkata: HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dari Anas radhiallahu anhu, hadits dhaif).

Ini sesuai juga dengan firman Allah swt dalam surat Al Baqarah : 282 “dan bertaqwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu” dan Firman Allah di dalam surat Al Hijr : 75 “Dan sesungguhnya pada peristiwa tersebut ( hancurnya kaum Luth ) merupakan tanda bagi orang- orang yang mempunyai firasat“

Perlu di garis bawahi disini, bahwa orang yang punya kelebihan tersebut tidak akan mengaku- ngaku atau mengumumkan ilmu yang ia miliki di depan umum, apalagi sengaja untuk dikomersialkan demi mencari kekayaan dunia. Sungguh hal ini tidak sesuai dengan ruh ajaran Islam yang mengajarkan uamtnya untuk tidak riya’, apalagi menggunakan agama sebagai kendaran untuk mencari dunia.

Nabi khidir – menurut sebagian para ulama- diutus kepada kaum tertentu, sebagaimana nabi Musa as hanya diutus kepada bani Israil. Dan suatu hal yang sangat wajar sekali, apabila di satu zaman ada dua nabi atau lebih. Buktinya ?

Dalam surat Yasin ayat 13-14,Allah berfirman : “Berikan ( wahai Muhammad ) kepada mereka sebuah permitsalan para penduduk suatu negri , ketika datang kepada mereka para utusan Allah . Ketika Kami utus kepada mereka 2 orang rosul, maka mereka mendustakan keduanya, maka Kami perkuat dengan rosul yang ketiga, mereka berkata ; “ Sesungguhnya kami adalah utusan Allah kepada kamu sekalian “

Contoh yang lain adalah nabi Ibrohim, Ismail, Ishaq dan nabi Luth mereka hidup dalam satu zaman, begitu juga nabi Daud dan Sulaiman, nabi Ya’qub dan Yusuf , nabi Musa , Harun dan Syu’aib, dan terakhir nabi Zakaria, Isa dan Yahya.

Nabi Khidir as juga bukan pengikut nabi Musa as dan tidak diperintahkan untuk mengikutinya , sehingga boleh-boleh saja bagi nabi Khidir berbuat tidak seperti apa yang diajarkan nabi Musa as, karena setiap nabi mempunyai manhaj dan syareah yang berbeda-beda. Kemudian setelah itu datang seseorang mengaku sebagai wali Allah dan mempunyai ilmu laduni , sehingga membolehkan dirinya keluar – atau tidak mengikuti syareah yang di bawa nabi Muhammad saw. Na’udzibillahi mindzalik. Jangankan dia….yang namanya nabi Isa as saja, nantinya kalau turun ke bumi lagi untuk membunuh Dajjal, akan ikut dan patuh dengan syareat nabi Muhammad saw.

Adapun pernyataan Abu Yazid, maka itu adalah suatu kesalahan yang nyata karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam hanya mewariskan ilmu syari’at (ilmu wahyu), Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nabi mengatakan bahwa para ulama yang memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itulah pewarisnya, sedangkan anggapan ada orang selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam yang mengambil ilmu langsung dari Allah kapan saja ia suka, maka ini adalah khurafat sufiyyah. 5.Anggapan bahwa ilmu syari’at itu hijab adalah sebuah kekufuran, sebuah tipu daya syetan untuk merusak Islam. Karena itu, tasawwuf adalah gudangnya kegelapan dan kesesatan. Sungguh sebuah sukses besar bagi iblis dalam memalingkan mereka dari cahaya Islam.

Anggapan bahwa dengan “ilmu laduni” sudah cukup adalah kebodohan dan kekufuran. Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh Abdul Qodir Al-Jailani mengatakan: “Setiap hakikat yang tidak disaksikan (disahkan) oleh syari’at adalah zindiq (sesat).”

Seseorang yang mengaku mendapatkan Ilmu Laduni, sebagaimana yang di dapat oleh Nabi Khidir as, sama saja ia mengaku mendapatkan wahyu dari langit, karena yang didapat nabi Khidir adalah wahyu. Seseorang bisa mengetahui ilmu ghoib dengan perantara Jin atau Syetan , karena Jin dan Syetan sering mencuri pendengaran tentang hal-hal ghoib dari langit.

Sebagaimana firman Allah didalam surat Al Hijr : 17-18, “Dan Kami jaga langit2 tersebut dari syetan yang terlaknat, kecuali mereka yang mencuri pendengaran ( dari hal2 yang ghoib ) , maka dia akan dikejar oleh batu api yang nyata “

Ayat – ayat senada juga bisa dilihat di dalam surat As Shoffat:10 dan Surat Jin: 9.

Seseorang yang mengaku mempunyai ilmu laduni dengan perantara ilmu-ilmu kanuragan ( ilmu kesaktian ) yang ia dapatkan dengan latihan-latihan tertentu, seperti bertapa di tengah sungai selama 40 hari 40 malam, atau puasa selama 40 hari berturut-turut, atau dengan hanya makan nasi putih saja tanpa lauk dalam jangka waktu tertentu atau dengan cara-cara lain yang sering dikerjakan sebagian orang. Maka kita akan tanyakan kepadanya, apakah cara-cara seperti itu pernah diajarkan oleh Rosulullah saw dan para sahabatnya atau tidak ? kalau jawabannya tidak, berarti dia mendapatkan ilmu tersebut dengan meminta bantuan dari jin dan syetan.

Sebagaimana seseorang bisa menjadi kaya mendadak dengan meminta bantuan Jin dan Syetan. Perbuatan seperti ini dilarang oleh Islam, sebagaimana firman Allah didalam surat Jin : 6

“Dan sesungguhnya ada diantara manusia yang meminta perlindungan dari segolongan Jin, maka segolongan Jin itu hanya aka menambah kepada mereka kesusahan. “

Kita dapati banyak orang pada zaman sekarang yang memelihara Jin untuk memperoleh kekayaan dengan cepat, tetapi yang mereka dapatkan hanyalah kesusahan. Mereka akhirnya mati secara mengenaskan karena menjadi “ tumbal” Jin yang ia pelihara … Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. (ubes)