Ulama sufi berkata, "Mukasyafah
artinya jalinan secara rahasia antara dua batin." Maksudnya, mukasyafah
adalah salah satu dari dua orang yang saling mencintai, yang mengetahui batin
urusan dan rahasia yang satunya lagi. Jalinan ini terjadi secara lembut dan
penuh kasih sayang. Jika seorang hamba sampai ke kedudukan ma'rifat, maka
seakan-akan dia dapat melihat sifat-sifat kesempurnaan Allah dan keagungan-Nya,
sehingga ruhnya merasakan kedekatan yang khusus, berbeda dengan kedekatan yang
bersifat inderawi, sehingga seakan-akan dia bisa menyaksikan disingkapkannya
hijab antara ruh dan hatinya dengan Rabb-nya.
Yang dimaksud kasyf menurut Al Ghazali adalah metode pengetahuan melalui sarana kalbu yang bening, atau pemahaman intuitif langsung. kasyf (iluminasi) adalah apa yang tadinya
tertutup bagi manusia, atau tersingkap bagi
seseorang seakan ia melihat dengan matanya. Dengan demikian pengetahuan itu diperoleh dari
sumbernya secara langsung, bukan melalui
fikiran atau belajar.
Mukasyafah adalah tersingkapnya tabir yang menjadi kesenjangan antara sufi
dengan Allah. Kesenjangan tersebut adalah jarak antara mahluk dengan khaliknya.
Sementara itu Kasyf menurut Qaysari adalah penyingkapan hijab. Secara terminologis, kasyf adalah mengetahui
makna yang tersembunyi dan realitas dibalik
hijab secara wujud. Penyingkapan-penyingkapan
itu sebenarnya merupakan Tajali Nama yang
mengurusinya. Dan semuanya berada di bawah Nama Al-Alim.
Adapun yang berkaitan dengan duniawi, seperti dalam praktek memberitakan kejadian-kejadian duniawi yang akan
terjadi, termasuk dalam kasf Al Suri, kasyf
ini disebut kasy Ruhbaniyyah, karena mereka mengetahui hal-hal gaib melalui riyadah dan mujahidah mereka.
Tetapi para ahli suluk beranggapan bahwa hal itu sebagai al istidraj, yaitu kemunduran derajat, bahkan mereka
tidak menanggapinya, karena tujuan mereka adalah
fana' fi l-Lah dan Baqa bil-Lah.
Menurut Al Qaysari, sumber mukasyafah adalah al qalb al insani dan intelek amalinya yang bercahaya yang
menggunakan indera ruhaniyah. Karena qalbu
manusia memiliki penglihatan, pendengaran dan sebagainya. Sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firmannya :
"Maka sesungguhnya tidak buta matanya, tetapi yang buta adalah hatinya
yang ada di dalam dada".
Dan "Allah telah menutup keatas hati mereka dan pendengarannya dan penglihatan mereka
dengan tirai."
Dan indra ruhaniyyah ini adalah bathin indera jasmani. Ketika tersingkap hijab dimensi ruhani dan dimensi
kongkrit maka akan menyatu indera ruhaniyah
dan indera jasmaniyahnya. Dan dia akan mempersepsikan dengan indera ruhanniyahnya. Ruh akan menyaksikan
semuanya secara esensial, karena hakikat
yang ada akan menyatu dengan ruh dalam martabatnya dengan keberadaan yang lengkap dan seluruh
hakikat terpadu di dalamnya.
Hijab tersebut adalah nafsunya, yang disingkap Allah dengan kekuatan-Nya.
Dengan begitu dia akan menyembah-Nya seakan-akan dapat melihat-Nya.
Ada tiga derajat mukasyafah, yaitu:
Mukasyafah yang menunjukkan penerapan
yang benar, yang harus berjalan secara terus-menerus. Hal ini terjadi pada
sekali waktu tanpa waktu yang lain, tanpa diselingi suatu pemisahan. Hijab yang
tipis bisa terbentang pada kedudukannya, hanya saja hijab itu tidak membuatnya
memalingkannya dan meniadakan bagiannya. Ini merupakan derajat orang yang
menuju suatu tujuan. Jika berlangsung terus, maka menjadi derajat kedua.
Mukasyafah yang benar merupakan ilmu
yang disusupkan Allah ke dalam hati hamba dan menampakkan kepadanya
perkara-perkara yang tidak diketahui orang lain. Namun Allah juga bisa
memalingkan dan menahannya karena kelalaian dan membuat tutupan di dalam
hatinya. Tapi tutupan ini amat tipis, yang disebut al-ghain. Yang lebih tebal
lagi disebut al-ghaim, dan yang paling tebal adalah ar-ran.
Yang pertama berlaku bagi para nabi,
seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya
ada tutupan dalam hatiku, dan sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah
lebih dari tujuh puluh kali (dalam
sehari)."
Yang kedua berlaku bagi orang-orang
Mukmin, dan yang ketiga bagi orang-orang yang menderita, seperti firman Allah,
"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan
itu menutup hati mereka." (Al-Muthaffifin: 14).
Hijab ada sepuluh macam:
1. Hijab peniadaan dan penafian
hakikat asma' serta sifat. Ini merupakan hijab yang paling tebal. Orang yang
memiliki hijab ini tidak mempunyai kesiapan untuk mengetahui Allah dan sama
sekali tidak sampai kepada Allah, sebagaimana batu yang tidak bisa naik ke
atas.
2. Hijab syirik, yaitu membuat hati menyembah kepada selain Allah.
3. Hijab bid'ah yang bersifat perkataan, seperti hijab orang-orang yang
mengikuti hawa nafsu dan berbagai macam perkataan yang batil lagi rusak.
4. Hijab bid'ah yang bersifap ilmiah,
seperti hijab para ahli thariqah yang melakukan bid'ah dalam perjalanannya
kepada Allah.
5. Hijab orang-orang yang melakukan
dosa besar secara batinnya, seperti hijab orang-orang yang takabur, ujub,
riya', dengki, membanggakan diri dan lain sebagainya.
6. Hijab orang-orang yang melakukan
dosa besar secara zhahir. Hijab mereka lebih tipis daripada hijab orang-orang
yang melakukan dosa besar secara batin, sekalipun mereka lebih banyak ibadahnya
dan lebih zuhud. Dosa besar secara zhahir lebih dekat kepada taubat daripada
dosa besar secara batin. Orang yang melakukan dosa besar secara zhahir lebih
bisa diselamatkan dan hatinya lebih baik daripada orang yang melakukan dosa
besar secara batin.
7. Hijab orang-orang yang melakukan
dosa-dosa kecil.
8. Hijab orang-orang yang
berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah.
9. Hijab orang-orang yang lalai
melakukan tujuan penciptaannya dan yang dikehendaki dari dirinya, tidak
senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepada Allah.
10. Hijab orang-orang yang berijtihad
namun menyimpang dari tujuan.
Inilah sepuluh macam hijab yang
mendinding antara hati dengan Allah, menjadi penghalang di antara keduanya.
Hijab-hijab ini muncul dari empat unsur: Jiwa, syetan, dunia dan nafsu. Hijab
tidak bisa disingkirkan jika unsur-unsur penyebabnya masih ada. Empat unsur
inilah yang merusak perkataan, perbuatan, tujuan dan jalan, tergantung dari
banyak dan sedikitnya, memotong jalan perkataan, perbuatan dan tujuan untuk
sampai ke hati.
Sementara apa yang dipotong agar tidak
sampai ke hati, juga dipotong agar tidak sampai kepada Allah. Antara perkataan
dan perbuatan dengan hati terbentang jarak perjalanan. Seorang hamba menempuh
jarak perjalanan itu agar sampai ke hatinya, agar dia bisa melihat berbagai
macam keajaiban di sana. Dalam perjalanan ini terdapat banyak perampok jalanan
seperti yang sudah disebutkan di atas.
Jika dia bisa memerangi para perampok
jalanan itu dan amalnya bisa sampai ke hati, maka ia akan menetap di dalam
hati, lalu dari hati ini dia akan mendapatkan jendela agar dapat melihat Allah.
Sekalipun perjalanan itu sudah sampai ke hati, namun hamba tidak mendapatkan
jendela untuk melihat Allah, bahkan di dalamnya bersemayam nafsu dan
pasukannya, sekalipun dia orang yang zuhud dan paling banyak beribadah, maka
dia adalah orang yang paling jauh dari Allah.
Bahkan orang-orang yang melakukan dosa besar, hatinya bisa lebih dekat dengan
Allah daripada mereka. Lihatlah seorang ahli ibadah dan zuhud,yang di keningnya
terdapat bekas sujud, tapi justru mengingkari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
karena amalnya yang kelewat batas, sehingga dia pun mencemooh orang Muslim
lainnya dan menumpahkan darah para shahabat.
Di sisi lain lihat seorang peminum
berat,(Orang pertama adalah Dzul-Khuwaishirah At-Tamimy Al-Khariji, dan orang
kedua adalah Iyadh bin Himar). yang sering mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam, dan dia pun siap dijatuhi hukuman karena kebiasaannya itu. Karena
iman, keyakinan dan kecintaannya kepada Allah serta Rasul-Nya, dia rela
menerimanya, sampaisampai beliau melarang orang lain yang memakinya.
Dari sini dapat diketahui bahwa orang
yang melakukan kedurhakaan lebih baik kesudahannya daripada orang yang
melanggar ketaatan.
Perkataan Syech (al-Mursyid),
"Mukasyafah yang menunjukkan penerapan yang benar", setiap orang
mengaku memiliki kesesuaian yang benar. Tidak ada penerapan yang benar kecuali
yang sesuai dengan perintah. Penerapan dalam ilmu ialah pengungkapan yang
sesuai dengan apa yang dikabarkan para rasul. Penerapan yang benar dalam
kehendak ialah yang sesuai dengan kehendak Allah.
Mukasyafah yang sebenarnya ialah
mengetahui kebenaran yang disampaikan Allah kepada para rasul-Nya dan yang
diturunkan ke dalam kitab-kitab-Nya, yang dilihat dengan hatinya. Ini pula yang
disebut penerapan yang benar. Sedangkan kebalikannya adalah suatu keburukan.
Ini merupakan derajat pertama, yaitu derajatnya orang yang menuju ke suatu
tujuan. Jika berjalan terus dan teguh hati, maka akan mencapai derajat kedua.
Syaikh berkata, "Sedangkan
derajat ketiga adalah mukasyafah mata dan bukan mukasyafah ilmu, yaitu
mukasyafah yang tidak membiarkan adanya pertanda yang menimbulkan kelezatan,
atau yang menghentikan perjalanan atau yang singgah di satu penghalang. Tujuan
dari mukasyafah ini adalah kesaksian."
Derajat ini disebut pengungkapan mata,
karena banyaknya cahaya pengungkapan apa yang ada di dalam hati, lalu
menggantikan kedudukan ilmu yang tidak mungkin diingkari dan didustakan.
Sebagaimana melihat dengan pandangan mata yang tidak bisa dilakukan kecuali
adanya kekuatan penglihatan, tidak ada pembatas, tidak gelap dan tidak jauh
jaraknya, maka pengungkapan dengan mata hati mengharuskan adanya hati yang sehat
dan tidak adanya perintang untuk mengungkap segala rahasianya.
Dalam Kitab Manaqib Nurul Burhan, terdapat 70 wali Allah yang sudah mukasyafah
tapi berhasil disesatkan oleh Iblis (seperti pengakuan Iblis kpada Sultan
al-awliya Syaikh Abdul Wadir al-jailani). Kedua, mukasyafah adalah bagian dari
sebuah proses, bukan tujuan puncak dalam suluk ruhani. Selama mengalami proses
mukasyafah, sufi (terutama yg masih di tengah jalan) masih harus menghadapi
banyak cobaan dan godaan. Apa yang datang dari mukasyafah boleh jadi adalah,
meminjam bahasa Qur'an, makr (tipu daya Allah). ia bisa jadi kasyaf syathani,
atau khatir syathani. Betul bahwa hati yg suci bisa mendapatkan mukasyafah,
tetapi hati yang suci bukan terminal akhir, dan karenanya mukasyafah juga bukan
puncak ilmu.
Dalam makna wirid- wirid besar tarekat
mu'tabarah tersirat bahwa bahkan mukasyafah pun masih bisa disusupi iblis, dan
karenanya selalu dibaca istiadzah (sebagian menggunakan wirid shalat istadzah
setiap pagi). Kasyaf rabbani memang boleh jadi menjadi isyarat kesucian,tetapi
tidak selalu ia bersifat paripurna. Ketiga, seorang yang telah mendapatkan
mukasyafah boleh jadi belum mencapai kondisi fana, fana-al-fana, dan baqa.
Karenanya, mukasyafah boleh jadi merupakan "hal" atau keadaan spiritual,
yang tidak permanen (yang berbeda dengan "maqam" yang relatif
permanen). (ubes)