Friday, December 13, 2019

RAMADHAN TERBAIK UNTUK IBADAH PUASA

Oleh: ubes nur islam

Bulan ramadhan adalah termasuk salah satu bulan yang disebut asyharul hurum, yakni bulan-bulan yang dimuliakan dalam Islam. Dalam sejarah Islam dikatakan, di bulan ini dilarang mengadakan kontak persenjataan atau peperangan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya.

Dalam situasinya keadaan bulan ini selalu bercuaca dengan kondisi musim panas yang amat terik menyengat dan luar biasa panas, namun demikian Islam menjadikan bulan ini sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan ibadah puasa bagi ummat islam secara keseluruhan, sebagai ajang latihan menahan diri dari berbagai aktifitas detruktif yang radikal.

Dengan melaksanakan ibadah puasa secara outomatis para anak-anak bangsa yang berpribadi dan bermentalitas pamarah, emosional membara akan terbakar hangus dan luluh menjadi pribadi yang lemah lembut dan berkarakter konstruktif.

Bangsa-bangsa purba di dunia telah mengenal  dan mempunyai tradisi puasa, seperti bangsa Mesir Purba, Yunani purba, Hindu purba, dan masyarakat China sampai kini mengenal puasa. Begitu juga suku-suku bangsa primitive di Amerika, Afrika, dan Asia mempunyai tradisi puasa. Begitu pula suku-suku di negri kita seperti di Toraja di Sulawesi, dayak di Kalimantan, Badui di Banten dan Kubu di Sumatera mengenal adanya puasa.

Dalam agama-agama besar di dunia, puasa adalah salah satu ibadah yang amat penting. Karena Allah telah pernah memerintahkan kewajiban puasa kepada umat terdahulu dimana kepada dikirimkan  Rasul-rasul Allah. Mereka didiwajibkan puasa dalam tiap zamannya, seperti Nabi Musa, Nabi Daud, dan Nabi Isa.

Dalam Bijbel sendiri banyak menuturkan tentang puasa. Umpamanya dalam Perjanjian Lama kita dapat melihat dalam Kitab Yesaya 58: 3-6 dan Daniel 10:2.begitu juga dalam perjanjian Baru dapat kita lihat dalam Matius 6:16-17, 9:14-17; Lukas 5: 33 dan Markus 2: 18-22. (lihat Dienul Islam,  Drs. Nasruddin Razak, hal:200)

Bangsa Arab pra Islam, juga mengenal puasa dalam riwayat Bukhari dari Aisyah RA, bahwa kaum Quraiy melakukan puasa 10 Muharram pada zaman jahiliyah, kemudian Rasul SAW menyuruh kaum muslimin berpuasa hari itu sampai dating kewajiban puasa di bulan Ramadhan, dengan sabdanya:

“Barangsiapa berpuasa Asyura silahkan, dan barangsiapa yang tidak puasa (Asyura) silahkan pula”.(lihat Tarikh Tasyri Islami, Khudhori Byk, hal: 47)

Bahkan jika diamati lebih jauh, selain bangsa manusia ternyata alam tumbuh tumbuhan dan binatang di sepanjang zaman pun berpuasa. Sebuah penyelidikan menunjukkan bahwa tumbuh tumbuhan, terutama yang berbiji belah (tumbuhan dicotyl) sering melakukan puasa, pada tiap tahunnya ada musim rontok. Daun yang menempel di tumbuhan adalan sebagai berfungsi untuk menahan penguapan, menampung cahaya, menyerap udara, bahkan berfungsi untuk melakukan potosintesa dan pengasimilasi dan pengatur makanan. Sesudah musim rontok terjadi, tumbuhan mengalami musim berdaun muda kembali, kemudian disusul dengan musim berbunga dan berbuah.

Adapun tumbuhan yang musim gugur daunnya tidak teratur, berakibat datang musim buahnya tidak bagus dan kurang baik buahnya.

Bagi kelompok hewan yang sering berpuasa, dapat dilihat di hewan unggas. Misalnya ayam. Ia berpuasa selama mengerami telornya. Biasanya saat ia mengeram, makannya sangat sedikit dan teratur sekali, yakni pagi sekali atau sore sekali. Bagi induk ayam yang berani makan banyak saat mengeram cukum mendinginkan perutnya, dan akibatnya banyak kegagalan dalam menetaskan telornya.

Puasa tidaklah dimaksudkan untuk siksaan pisik atau rohani manusia. Justru dengan puasa diharapkan menaikkan status eksistensi dan nilai jati diri manusia.  Oleh karena itu,  jika puasa ini dalam keadaan tertentu bisa membahayakan manusia, boleh tidak puasa, QS. Al-Baqarah: 183-185 (bersambung ...)

MAKNA BULAN RAMADHAN

Kata ramadhan merupakan bentuk kata dasar (musytaq)  dari kata ramidha – yarmadhu – ramdhon atau ramadhona dan romadhonat atau romadho’an, yang berati terik panas dan sangat panas membara, (1) Lihat Qomus Arab – Indonesia, Prof. Dr. Mahmud Yunus, hal: 147), atau panas terik membara dan membakar, menimbulkan panas terik, terasa amat panas terbakar, menyala-nyala marahnya, atau bulan ramadhan yang merupakan bulan ke-9 dari penanggalan tahun hijriyah (2) lihat Qomus al-Munawwir, AW. Munawwir, hal: 533)

Dalam sejarah Islam dikatakan, di bulan ini dilarang mengadakan kontak persenjataan atau peperangan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Dalam situasinya keadaan bulan ini selalu bercuaca dengan kondisi musim panas yang amat terik menyengat dan luar biasa panas, namun demikian Islam menjadikan bulan ini sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan ibadah puasa bagi ummat islam secara keseluruhan, sebagai ajang latihan menahan diri dari berbagai aktifitas detruktif yang radikal. Seiring dengan waktu yang pas itu, kewajiban puasa dilaksanakan tepat pada waktu bulan Ramadhan ini.

Puasa sendiri berasal dari kata shoum yang secara bahasa (etimologis), berarti mencegah dari sesuatau (3) lihat Kifayatul Akhyar hal: 149) atau menahan dari segala sesuatu, seperti berperang, makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya (4) lihat Fiqih Islam, H. Sulaiman Rasyid, hal :220).  Kata shoum termaktub dalam firman Allah dalam bentuk kata jamak, antara lain : QS. Al-Baqrah:183 dan 187.

Dengan kandungan dari ayat ini, kata shoum memiliki arti sikap pasif dalam wujud mengekang diri. Termasuk dalam pengertian ini, sikap diam merupakan suatu keadaan yang menggambarkan pengekangan diri untuk berbicara atau tidak bicara. Pengertian ini diantaranya terdapat dalam firman Allah QS Maryam: 26.

Secara istilah (terminologis), puasa atau shoum berarti al-imsak, pengekangan diri atau menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat pada waktu malam harinya dan dengan melakukan beberapa syarat yang ditentukan dalam syariat puasa. (5) lihat Fiqih Islam, H. Sulaiman Rasyid, hal :220). Pemahaman lebih lanjut dapat dilihat dalam ayat QS. Al-Baqrah: 187.

Walhasil, bulan ramadhon adalah bulan yang amat dimuliakan Islam dan bulan yang dilarang untuk mengadakan perseteruan dan peperangan antar sesama bangsa penghuni bumi. Di bulan ini ummat Islam melakukan latihan untuk melatih kepribadian yang handal dan digjaya, yakni di bulan ini umat muslim melakukan latihan penggodogan kawah candradimuka untuk menaikkan derajat peribadinya sebagai insani muslim yang mukmin dan muttaqiin, agar mampu melakukan perlawanan dengan pihak musuh dari dalam diri sendiri, berupa perlawanan hawa nafsu yang kian terus menerus menjebak eksisitensinya dan esensi nilai-nilai kemanusiaannya.

Kewajiban puasa dilaksanakan mulai sejak tahun kedua hijrah, yakni tahun kedua sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah al-Munawwarah. Dimana saat itu turun wahyu perintah kewajibah puasa dan merupakan fardhu ‘ain bagi setiap muslim. Rasulullah SAW sendiri sudah mengerjakan ibadah puasa ini sebanyak sembilan kali, dengan rincian delapan kali 29 hari dan satu kali pas 30 hari. 

Pemahaman lebih lanjut dapat dilihat dalam ayat berikut ini.  Firman Allah:  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa, (yaitu) dalam beberapa hari tertentu….” (QS. Al-Baqrah:183-184).(ubes nur islam)